Blog Archive

Senin, 05 November 2012

Hero or Zero?

Setiap manusia pasti punya perbedaan. Sekecil apapun perbedaan itu, tetep aja beda. Beda nama, fisik, kepribadian, beda pemikiran, sifat, kelakuan, dan masih banyak lainnya. Yang namanya perbedaan apalagi udah bawaan dari lahir, pasti nggak bisa diubah. Jadi, bertoleransilah.

Sebenernya kali ini aku lagi dapet topik pembahasan mengenai masalah yang lagi 'hot' diperbincangkan. Baik di media sosial maupun cetak. Sederhananya, masalah ini masalah sepele. Tapi akibat yang timbul itu lah yang membawa konflik besar di Lampung.

Menurut ringkasanku, awal mula terjadi sih karena kesalahpahaman. Jadi ada rombongan sepeda, trus salah satu pengendara sepeda nggak sengaja nyerempet pengendara motor yang dikendarai 2 orang dan cewek. Nah, kan kalo jatuh gitu pasti ditolong. Tapi persepsi yang menolong dan ditolong itu berbeda. Nggak sejalan alias salah paham atau beda paham.

Salah satu persepsi yang negatif adalah adanya niat pelecehan seksual. Tapi dari pihak yang menolong sih nggak tau juga.. Trus si keluarga 2 cewek itu maunya menuntut ganti rugi. Kebetulan si 2 cewek itu tau orang yang nyerempet itu dari Desa Balinuraga kalo nggak salah. Jadilah mereka datengin desa itu, tapi dibantu dengan 50 orang yang bawa senjata tajam. Nah! Dari situlah konflik dimulai. Dari yang aku baca, desa Balinuraga  itu pindahan dari Bali ke Lampung. Tapi orang Bali nya sendiri itu sebenernya udah ngerasa bagian dari Lampung yang nggak harus dibeda-bedain lagi. Eh, jadi muncul SARA kan..

Sebagai anak IPS, aku menanggapi hal ini sebenernya intinya cuma satu sih. Ya itu tadi, masalah sepele tapi nyangkut-nyangkutin SARA. Seharusnya, kita tuh sadar, sebagai warga sebangsa dan setanah air tu harusnya bersatu. Nggak ada yang namanya kamu-ini-kamu-itu. Mereka yang menganggap beda warga yang lainnya itu semacam Primordialisme. Yaitu menganggap budaya nya lebih baik dari budaya lain. Menganggap ekslusif budayanya. Itu salah. Dan seharusnya nggak ada sifat kayak gitu mengetahui kita punya Pancasila yang mengharuskan bersatu, berkemanusiaan. Huh.

Di sisi lain, hal semacam ini pun contohnya tawuran pelajar. Nah kalo ini mah susah banget dilepasin dari kebiasaan yang bertawur. Kalo dirasa-rasa tawuran itu bawaan dari kakak kelas. Alias turun-temurun per generasi. Tapi yang namanya udah pindah generasi tu malah harusnya menciptakan damai po piye gitu ya? Malah soyo menjadi. Malah diwarisin gitu dari kakak kelasnya. Ckck. Apa yang dipikirin sama anak suka bertawur sih? Penasaran deh. Buat apa gitu lho? Nggak ada manfaatnya, mau jaga nama baik sekolah lewat apa coba? Buang2 nyawa (ya kalo bejo sih masih hidup aja sih). Pengen gitu otak para pentawur tak cuci pake bayclin. Biar bersih, suci, tanpa noda. Mereka tu dituntut sekolah e malah tawur sak penak jidat. Kalo ada sekolah lain yang mulai, njuk ditanggepi. Istilahnya mereka jadi nggak elit. Alias jadi gondes gitu. Mau secakep apapun, yang namanya tawur cakepnya blas nggak ada. Kecuali kalo jadi pahlawan.

Udah lah ya, hidupmu hidupmu. Hidupku hidupku. Tidak boleh ada dusta diantara kita. #malahngapainjal. Jadi inget kata Pak Sigit (guru Sejarah), "Pahlawan sama penjahat itu beda tipis, tergantung dari pandangan siapa dulu."

Tidak ada komentar: